Welcome to my BLOG :)

Namaku Afillia Gizca Mardiani Rukmana, seorang gadis yang mencoba membahagiakan orang tuanya. hahahaha :D

Selasa, 16 Agustus 2011

Dirgahayu Indonesia 66


Dirgahayu Indonesia yang ke 66

"biar saja ku tak seindah matahari tapi selalu ku coba tuk menghangatkanmu. biar saja ku tak setegar batu karang tapi selalu ku coba tuk melindungimu. biar saja ku tak seharum bunga mawar tapi selalu ku coba tuk mengharumkanmu. biar saja ku tak seelok langit sore tapi selalu ku coba tuk mengindahkanmu."

"biarpun bumi bergoncang, kau tetap Indonesiaku. andaikan matahari terbit dari barat, kau pun tetap Indonesiaku. tak sebilah pedang yang tajam dapat palingkan daku darimu."

AKU CINTA INDONESIA!
AKU CINTA MERAH PUTIH!
AKU BANGGA MENJADI BANGSA INDONESIA!
MERDEKA!!!

Jumat, 12 Agustus 2011

Iwan Fals - Belum Ada Judul

Pernah kita sama sama susah
Terperangkap didingin malam
Terjerumus dalam lubang jalanan
Digilas kaki sang waktu yang sombong
Terjerat mimpi yang indah lelap

Pernah kita sama-sama rasakan
Panasnya mentari hanguskan hati
Sampai saat kita nyaris tak percaya
Bahwa roda nasib memang berputar
Sahabat masing ingatkah kau

Reff:
Sementara hari terus berganti
Engkau pergi dengan dendam membara di hati

Cukup lama aku jalan sendiri
Tanpa teman yang sanggup mengerti
Hingga saat kita jumpa hari ini
Tajamnya matamu tikam jiwaku
Kau tampar bangkitkan aku sobat

Senin, 20 Juni 2011

Lull

Dear God,

Come in.

God. You know I'm a good girl. I never do drugs, I never skip school, or even stick a bubble gum under the bus seat. I never want to do anything to hurt anyone. I just wanted lover. Well, you've given me one, and indeed, I've never loved someone as much as I love him, despite all of his past. Yes, we did a mistake. But it was only one time, God. Only one mistake. So, please. You should know what's fair.

I took a deep breath, and opened the envelope of the AIDS test result.


(LAILA ACHMAD)

Adikku

"Mbak marah?" tanyanya.

"Kenapa marah, Niet?" aku balik bertanya.

"Karena Niet melangkahi Mbak."

"Mbak tidak punya pikiran sependek itu," jawabku sambil menjaga intonasi suara tetap tenang. "Jodoh di tangan Tuhan. Satu saat nanti Mbak pasti menikah."

"Tapi kenapa Mbak tidak pulang?"

"Mbak tidak bisa menolak tugas dari pimpinan. Ini mendesak," sahutku.Jawaban klise yang telah kupersiapkan dengan matang.

"Mbak doakan semoga pernikahan kalian lancar," lanjutku. "Kamu ngerti 'kan Niet?"

"Terima kasih, Mbak."

Maafkan Mbak, Niet, batinku sesaat setelah mengakhiri percakapan kami. Mbak hanya tidak ingin melihatmu bersanding dengannya. Pria yang begitu saja memuruskanku setelah enam tahun bersama, tepat sehari sebelum melamarmu.

(ANDI F. YAHYA)

Sepuluh Tahun

"Kita akan bertemu lagi di sini. Sepuluh tahun lagi. Tanggal yang sama, bulan yang sama, hari yang sama."

Itulah kalimat terakhir yang kudengar, sebelum laut memisahkan kami.

Ia pulang. Untuk menikah dengan gadis pilihan keluarganya.

Tahun ke tujuh, aku bersanding di pelaminan dengan lelaki yang mencintaiku. Yang sabar menunggu sampai aku bisa melupakannya.

Hari ini tahun ke sembilan. Aku sedang duduk di teras, ditemani suamiku dan putra kami yang baru belajar jalan.

Hari ini tahun ke sepuluh. Kami bertemu lagi.

"Kau bahagia?"

"Ya," jawabku. Tulus dan jujur.

"Aku juga." Ia tersenyum. Menjabat tanganku. Dan pergi. Kembali ke anak dan istrinya.

(NITA SELLYA)

Sebuah Janji

"Aku pasti datang," ucapmu saat itu, meyakinkanku.
"Tunggu aku, di sini, dua tahun yang akan datang."

Dua jam sudah aku menunggu, di sudut teras kafe, tempat terakhir kita bertemu.

"Ah, mungkin kau sudah lupa..." batinku.

"Nita?" Sebuah suara membuyarkan lamunan.

"Iwan, teman Hadi," seraya mengulurkan tangannya.
"Ia banyak cerita tentangmu."

"Dia..."

Mendadak rasa cemas menghinggapi hatiku.

"Aku... datang memenuhi pesan terakhirnya," ujarnya sambil mengulurkan surat dan sebuah kotak padaku.
"Dia titipkan ini sebelum meninggal. Cincin itu ingin ia sematkan sebagai kejutan hari ini, seperti janjinya padamu."

Air mataku luruh.

"Maafkan, aku sempat meragukanmu. Ternyata kau tak pernah lupa," bisikku lirih.

(ANDI F. YAHYA)

Iri

aku masih di sini
sendiri
dan hanya bisa memimpikanmu

aku iri pada kedua orang tuamu
yang bisa melihat wajah tidurmu setiap hari

aku iri pada teman-temanmu
yang bisa melihat tingkahmu setiap saat

aku iri pada rekan kerjamu
yang bisa bersamamu seharian

aku iri pada tukang ojek itu
yang bisa selalu bersamamu setiap pagi

aku iri pada pemilik warung langgananmu
yang bisa memberimu makan setiap siang

aku bahkan iri pada satpam kompleks rumahmu
yang cuma membuka pintu untukmu setiap malam

aku iri pada mereka
yang punya begitu banyak kesempatan untuk membunuhmu

dan aku masih di sini
sendiri
hanya bisa memimpikannya

(JAMALUDDIN AHMAD)