Ku kutip penggalan-penggalan kalimat dari salah satu novel Tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, Sang Pemimpi.
• Dan inilah puncak muslihat anak Melayu kampung: di dekat para siswi tadi, aku berpura-pura menunduk untuk membetulkan tali sepatu, yang sebenarnya tidak apa-apa, sehingga ketika bangkit aku mendapat kesempatan menyibakkan jambulku seperti gaya pembantu membilas cucian. Ah, elegan, elegan sekali. Sangat Melayu!
–Ikal (Mozaik 1; What a Wonderful World)
• Dan jika menonton TVRI, kita biasa melihat orang seperti Arai meloncat-loncat di belakang presiden agar tampak oleh kamera.
-Ikal>Arai (Mozaik 2; Simpai Keramat)
• “Dunia …!! Sambutlah aku …!! Ini aku, Arai, datang untukmu …!!” Pasti itu maksudnya.
–Ikal>Arai (Mozaik 2; Simpai Keramat)
• Setiap lekukan tajwid yang dilantunkan hati muda itu adalah syarat kerinduan yang tak tertanggungkan pada ayah-ibunya.
–Ikal>Arai (Mozaik 3; The Lone Ranger)-
• Ia menatapku sarat arti: aku sayang padamu, Sahabatku. Sungguh penuh pengertian!
–Ikal>Jimbron (Mozaik 5; Tuhan Tahu, tapi Menunggu)-
• “Maka berkelanalah di atas muka bumi ini untuk menemukan mozaikmu!”
–Bapak Drs. Julian Ichsan Balia (Mozaik 6; Aku Hanya Ingin Membuatnya Tersenyum )-
• “Jelajahi kemegahan Eropa sampai ke Afrika yang eksotis. Temukan berliannya budaya sampai ke Prancis. Langkahkan kakimu di atas altar suci almamater terhebat tiada tara: Sorbonne. Ikuti jejak-jejak Sartre, Louis Pasteur, Montesquieu, Voltaire. Di sanalah orang-orang belajar science, sastra, dan seni hingga mengubah peradaban ….”
-Bapak Drs. Julian Ichsan Balia (Mozaik 6; Aku Hanya Ingin Membuatnya Tersenyum )-
• “Bangkitlah, wahai Para Pelopor!! Pekikan padaku kata-kata yang menerangi gelap gulita rongga dadamu! Kata-kata yang memberimu inspirasi!!”
-Bapak Drs. Julian Ichsan Balia (Mozaik 6; Aku Hanya Ingin Membuatnya Tersenyum )-
• Aku tahu taktik tengik Arai. Ia menggunakan kata-kata langit hanya untuk membuat Nurmala terkesan. Kembang SMA Bukan Main itu telah ditaksirnya habis-habisan sejak melihatnya pertama kali waktu pendaftaran. Meskipun seumur-umur tak pernah punya pacar tapi Arai punya teori asmara yang sangat canggih.
-Arai (Mozaik 6; Aku Hanya Ingin Membuatnya Tersenyum )-
• “Perempuan adalah makhluk yang plin-plan, Kal, maka pertama-tama, buatlah mereka bingung!!”
-Arai (Mozaik 6; Aku Hanya Ingin Membuatnya Tersenyum )-
• “Aku hanya ingin membuatnya tersenyum …,” katanya berat.
-Jimbron>Laksmi (Mozaik 6; Aku Hanya Ingin Membuatnya Tersenyum)-
• Itulah orang pendiam, kata-katanya ditunggu orang.
-Ikal>Ayah (Mozaik 8; Baju Safari Ayahku)-
• Dan inilah momen yang paling kutunggu. Momen itu hanya sekilas, yaitu ketika beliau bergantian menatap kami dan dengan jelas menyiratkan bahwa kami adalah pahlawan baginya. Dan kami ingin, ingin sekali dengan penuh hati, menjadi pahlawan bagi beliau. Lalu ayahku tersenyum bangga, hanya tersenyum, tak ada sepatah pun kata.
-Ikal>Ayah (Mozaik 8; Baju Safari Ayahku)-
• Betapa menyedihkan keadaan kami sebenarnya. Waktu itu umur kami hampir delapan belas tahun dan tergagap-gagap melihat pemandangan seperti ini, padahal di belahan dunia lain anak-anak SMP sudah biasa menonton film “biru”.
–Ikal, Arai, dan Jimbron (Mozaik 9; Bioskop)-
• Pada momen ini kami memahami bahwa persahabatan kami yang lama dan lekat lebih dari saudara, berjuang senasib sepenanggungan, bekerja keras bahu-membahu sampai titik keringat terakhir untuk sekolah dan keluarga, tidur sebantal makan sepiring, susah senang bersama, ternyata telah membuahkan maslahat yang tak terhingga bagi kami.
–Ikal, Arai, dan Jimbron (Mozaik 11; Spiderman)-
• Pepatahku sekarang adalah pepatah konyol kuli-kuli Meksiko yang patah arang dengan nasib: ceritakan mimpimu, agar Tuhan bisa tertawa.
–Ikal (Mozaik 12; Sungai Lenggang)-
• Seyogyanya sikap buruk yang berbuah keburukan: pesimistis menimbulkan sinis, lalu iri, lalu dengki, lalu mungkin fitnah.
–Ikal (Mozaik 12; Sungai Lenggang)-
• “Kini ia sekolah di Tanjong Pandan, di SMA yang monyet pun jika mendaftar akan diterima!! Dan kau, kausia-siakan kehormatan garda depan itu!!?? Mengapa kau berhenti bercita-cita, Bujang? Pahamkah engkau, berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia!!”
–Bapak Mustar M. Djai’din, B.A. (Mozaik 12; Sungai Lenggang)-
• “Ah, ayahmu, Ikal, diundang pelantikan bupati pun baju safarinya tak beliau keluarkan. Hanya untukmu Ikal, yang terbaik dari beliau selalu hanya untukmu ….”
–Bapak Mustar M. Djai’din, B.A. (Mozaik 12; Sungai Lenggang)-
• Betapa aku ini anak tak berguna!! Betapa sampai hati pada ayahku.
–Ikal>Ayah (Mozaik 12; Sungai Lenggang)-
• “Biar kau tahu, Kal, orang seperti kita tak punya apa-apa kecuali semangat dan mimpi-mimpi, dan kita akan bertempur habis-habisan demi mimpi-mimpi itu!!”
–Arai (Mozaik 12; Sungai Lenggang)-
• “Tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati ….”
–Arai (Mozaik 12; Sungai Lenggang)-
• Ayahku yang pendiam: ayah juara satu seluruh dunia.
–Ikal>Ayah (Mozaik 12; Sungai Lenggang)-
• Di bawah kami sungai purba Lenggang mengalir pelan. Gelap dan dalam. Hulunya menyimpan sejarah pilu orang-orang miskin Melayu, anak-anak sungainya adalah misteri yang mengandung tenaga mistis, dan riak-riaknya yang berkecipuk siang dan malam adalah nyanyian sunyi rasa sayangku yang tak bertepi untuk ayahku.
–Ikal (Mozaik 12; Sungai Lenggang)-
• Jika ada perlombaan ceramah, aku berani jamin orang Melayu akan juara.
–Ikal (Mozaik 13; Pangeran Mustika Raja Brana)-
• “ITULAH KALAU KAU MAU TAHU TABIAT PEMIMPIN ZAMAN SEKARANG, BOI!! BARU MENCALONKAN DIRI SUDAH JADI PENIPU, BAGAIMANA KALAU BAJINGAN SEPERTI ITU JADI KETUA!!???”
–Minar>Ikal (Mozaik 13; Pangeran Mustika Raja Brana)-
• Orang-orang terhenyak, setelah bertahun-tahun berlalu, pagi ini untuk pertama kalinya mereka melihat Laksmi tersenyum, ya, Laksmi tersenyum! Dan senyumnya itu manis sekali.
–Jimbron>Laksmi (Mozaik 13; Pangeran Mustika Raja Brana)-
• Ia orang yang selalu merasa bahagia karena dapat membahagiakan orang lain. Lalu apa yang tersisa untuknya? Tak ada. Seperti ucapannya padaku: Tanpa mimpi dan semangat orang seperti kita akan mati. Ya, tergeletak di atas selembar tikar purun, dengan seragam putih abu-abu yang dipakai untuk sekolah dan bekerja, bangun pukul dua pagi untuk memikul ikan, yang tersisa hanya semangat dan mimpi-mimpi.
–Ikal>Arai (Mozaik 14; When I Fall in Love)-
• Cinta Arai pada Nurmala adalah salah satu dari kisah cinta yang paling menyedihkan di muka bumi ini. Cinta yang patah berkeping-keping karena selingkuh dan pengkhianatan? Bukan. Cinta yang dipaksa putus karena perbedaan status, harta benda, dan agamakah yang paling menyesakkan? Masih bukan. Cinta yang menjadi dingin karena penyakit, penganiayaan, dan kebosanankah yang paling menyiksa? Tidak. Atau cinta yang terpisahkan samudra, lembah, dan gunung-gemunung yang paling pilu? Sama sekali tidak. Bagaimanapun pedih dilalui kedua sejoli dalam empat keadaan itu mereka masih dapat saling mencinta atau saling membenci. Namun yang paling memilukan adalah cinta yang tak peduli. Namun, yang paling memilukan adalah cinta yang tak peduli. Karena seorang filsuf yang siang malam merenungkan seni mencinta telah menulis love me or just hate me, but spare me with your indifference ‘cintai aku atau sekalian benci aku, asal jangan tak acuhkan aku’. Malangnya yang terakhir itulah yang dialami Arai.
–Arai dan Zakiah Nurmala (Mozaik 14; When I Fall in Love)-
• Jangan samakan lada dan pala
Berbeda rupa, tak padan rasa
Rela kanda menginjak bara
Demi cinta Dinda Nurmala
–Arai>Zakiah Nurmala (Mozaik 14; When I Fall in Love)-
• Adapun suratnya, tak kalah mengenaskan nasibnya, tanpa pernah dibuka sampulnya dilipat Nurmala berbentuk pesawat dan dilepaslandaskannya menuju kolam sekolah.
–Arai dan Zakiah Nurmala (Mozaik 14; When I Fall in Love)-
• “Nurmala adalah tembok yang kukuh Kal …,” kilahnya diplomatis.
“Dan usahaku ibarat melemparkan lumpur ke tembok itu,” sambungnya optimis.
“Kau sangka tembok itu akan roboh dengan lemparan lumpur?” tanyanya retoris.
“Tidak akan! Tapi lumpur itu akan membekas di sana, apapun yang kulakukan, walaupun ditolaknya mentah-mentah, akan membekas di hatinya,” kesimpulannya filosofis.
–Arai dan Zakiah Nurmala (Mozaik 14; When I Fall in Love)-
• “…, tapi Abang tak pernah mau jadi anggota Dewan, Boi. Orang-orang itu selalu dianggap tak becus. Kasihan mereka, bukan? Hi … hi … hi.”
–Bang Zaitun (Mozaik 14; When I Fall in Love)-
• “Delapan belas tahun belum pernah pacaran? Malang betul nasibmu, Boi …. Hidup memang tak adil kadang-kadang hi … hi … hi …!!”
–Bang Zaitun>Arai (Mozaik 14; When I Fall in Love)-
• Perempuan yang belum khatam Qur’an dan kurang mantap imannya dipastikan rela menyerahkan kewarasannya pada dawai-dawai gitar yang dipelintir.
–Bang Zaitun (Mozaik 14; When I Fall in Love)-
• “Terbukti banyak sekali wanita cantik yang sehat walafiat jiwa raganya, rela diusir keluarganya gara-gara jatuh cinta setengah mati pada pemain gitar. Padahal pemain gitar itu masa depannya samar-samar, penampilannya lebih jelek dari jin Afrit, berminggu-minggu tak pernah mandi!! Itulah tenaga gaib pengasihan yang dikandung sebuah gitar, kalau kau mau tahu, Boi. Dan tunjukkan padaku Boi, kalau ada gitaris yang pacarnya buruk rupa. Tak ada … tak ada, Boi!!”
–Bang Zaitun (Mozaik 14; When I Fall in Love)-
• Seorang kuli yang buta nada , yang sadar betul dirinya tak ‘kan pernah bisa main gitar, ternyata mampu mendedikasikan dirinya sepenuh hati pada musik hanya untuk bisa membawakan satu lagu, satu lagu saja, demi menyampaikan jeritan hatinya pada belahan hatinya.
–Arai (Mozaik 14; When I Fall in Love)-
• Sayangnya, mungkin karena gugup ia bernyanyi seperti minggu ketiga latihan. Suaranya ke timur, gitarnya ke barat, dan temponya ke selatan.
–Arai (Mozaik 14; When I Fall in Love)-
• Mendapati Arai cengengesan di sampingnya Nurmala memandang kaku lurus ke depan seperti orang tidur salah bantal. Sakit lehernya jika menoleh.
–Arai dan Zakiah Nurmala (Mozaik 14; When I Fall in Love)-
• Lalu di ambang jendela yang tinggi berdirilah Zakiah Nurmala. Cantik, anggun semampai seperti Gabriella Sabatini. Ia tercengang sambil memilin-milin rambutnya yang bergelombang dan tergerai tak teratur. Lalu merekah, namun segera padam, dan merekah lagi, kemudian padam lagi, dan kembali merekah senyum yang susah payah ia tahan-tahan. Manis tak terperikan.
–Arai dan Zakiah Nurmala (Mozaik 14; When I Fall in Love)-


Tidak ada komentar:
Posting Komentar